Ada rasa
sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia,
melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti
pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku
terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku
dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku
bangkit.
Namun
ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa
bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku dan jantungku berdenting demi kau
menari-nari di pikiranku. Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat
aku bangga menjadi aku, itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku
meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika
angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi
menginjak bumi. Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku
harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul
aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada
akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di
dalam pejamku sebelum pulas. Amin.
Puisi karya Zarry Hendrik ❤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar